Selasa, 02 September 2014

DAYA PERLINDUNGAN VAKSIN KUCING

     pada akhir-akhir ini banyak terjadi banyak kasus penyakit menular pada kucing yang sudah divaksinasi secara teratur.penyakit yang diharapkan tidak muncul setelah vaksinasi. Feline Rhinotracheitis, Calicivirus dan Feline Panleukopenia adalah tiga penyakit menular pada kucing yang telah tersedia vaksinnya di Indonesia.
    Kucing yang telah divaksinasi secara berkala/teratur, diharapkan terlindungi dari ketiga penyakit tersebut. Walaupun kucing yang sudah divaksinasi  terkena salah satu dari tiga penyakit di atas, biasanya  relatif ringan dan tidak menyebabkan kematian. Beberapa waktu lalu di Jakarta sempat berkembang salah satu dari ketiga penyakit di atas yang banyak menyebabkan kematian pada kucing yang sudah divaksinasi. Para pemilik kucing mulai mempertanyakan kenjadian yang efektivitas dan daya perlindungan vaksin. Bahkan, hal ini menjadi masalah yang cukup ramai diperdebatkan di salah satu klub kucing Indonesia.

Vaksin kucing yang ada di Indonesia
   Semua vaksin kucing yang telah beredar di seluruh Indonesia, berasal dari luar indonesia. Saat ini ada tiga merk vaksin kucing resmi yang beredar di Indonesia, yaitu :

1. Leucorifelin, diproduksi oleh Merial (Eropa)
2. FeloGuard, diproduksi oleh Fort Dodge (Amerika)
3. Felocell 3, diproduksi oleh Pfizer (Amerika)

     Ketiga vaksin di atas sama-sama memberikan perlindungan terhadap tiga penyakit menular pada kucing (tricat). Masing-masing vaksin mempunyai kelebihan tersendiri. Mereka terbuat dari strain virus yang berbeda.
     Untuk mengetahui  vaksin yang disuntikkan pada kucing anda, perhatikan label pada buku/kartu vaksinasi yang diberikan dokter hewan pada setiap vaksinasi. Pada lebel tersebut tertera nama produk vaksin  

Vaksin Kucing Dan Virus Penyebab Penyakit
   pertama saya akan membahas masalah vaksin, kekebalan pada tubuh dan penyakit merupakan hal yang kompleks. Muncul dan tidaknya penyakit pada kucing sangat dipengaruhi beberapa hal. Dari hulu hingga ke hilir, dari produsen hingga ke dokter hewan, saat vaksinasi disuntikan ke kucing, banyak celah yang mungkin mengurangi efektivitas vaksin.

Pengiriman vaksin dari luar negri ke distributor indonesia
   vaksin pada kucing harus disimpan pada suhu 2-7°C, bila tidak disimpan disuhu 2-7°C vaksin akan rusak. Penyuntikan vaksin yang rusak ibaratkan penyuntik air biasa, bagi kucing tidak ada manfaatnya sama sekali. Setiap produsen dan distributor mempunyai Standar Operating Procedure (SOP) transportasi vaksin yang baik dan ketat. Meskipun kecil, tetap saja kemungkinan vaksin rusak selama produksi atau transport dapat terjadi.

Dari distributor ke dokter hewan
   Setiap akan mengirim vaksin harus menggunakan pendingin. Vaksin harus tetap berada dalam suhu 2-7°C hingga saat disuntikkan ke kucing. Kemungkinan vaksin rusak selama pengiriman dari distributor ke dokter hewan mungkin terjadi, apalagi bila jaraknya jauh dan suhu lingkungan cukup panas.

Saat melakukan vaksinasi
   Tugas dokter hewan memastikan kucing yang mau divaksinasi dalam keadaan sehat walafiat. Seminggu sebelum akan vaksinasi sebaiknya kucing sudah diberikan obat cacing. Kucing yang kurang sehat dan cacing menyebabkan pembentukan kekebalan tubuh setelah vaksinasi kurang sempurna, akibatnya perlindungan terhadap penyakit pun tidak sempurna. Selalu pastikan vaksin yang digunakan tidak kadaluarsa. Tanggal kadaluarsa terdapat di label vaksin yang akan ditempelkan dokter hewan anda di buku/kartu vaksinasi.

   Beberapa penjual kucing atau breeder memvaksin kucing mereka sendiri tanpa pengawasan dokter hewan. Hal ini kurang baik, mengingat tidak semua orang mempunyai kemampuan dan teknik menyuntik yang baik serta pengetahuan yang cuckup untuk menentukan kondisi dan kesehatan kucing. Perhatikan tanda tangan dan atau stempel dokter hewan yang tertera pada buku vaksin. Bila hanya ada paraf tanpa nama dokter hewan, anda harus curiga kucing anda di vaksinasi oleh selain dokter hewan.

Virus penyakit kucing
    Virus adalah mahluk hidup. Seperti mikroorganisme yang lainnya, virus juga terus berkembang dan berevolusi. Virus juga mengalami mutasi yang menyebabkan mereka menjadi kurang berbahaya atau sebaliknya menjadi lebih ganas. Mutasi pada virus tergantung jenis virus itu sendiri. Contohnya, virus flu pada manusia termasuk jenis virus yang sering mengalami mutasi.

   Bisa saja kekebalan tubuh kucing yang telah terbentuk dari vaksinasi, tidak mampu melawan strain virus baru yang memang telah bermutasi menjadi lebih ganas. (drh. Neno WS)

sumber: kucingkita.com


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.